Jumat, 16 Desember 2011

Syarat-syarat Dikabulkannya Doa

Kini, Anda telah siap untuk mengenal syarat-syarat dikabulkannya doa. Persiapan yang baik adalah bukti pemahaman yang baik.


Doa akan dikabulkan apabila keempat syaratnya telah terpenuhi.

Mari, fokuskan niat Anda. Namun perhatikan, niat saja tentu tidaklah cukup.

PERTAMA : Keyakinan akan terkabulnya doa.
Rasulullah SAW bersabda, “Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan yakin akan terkabulnya doa itu.” (HR. Ath-Thirmidzi)

Beliau juga bersabda, “Jika salah satu diantara kalian berdoa, janganlah ia mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menginginkannya’. Namun hendaklah ia bertekad kuat untuk meminta.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Saudaraku, keyakinan akan terkabulnya doa adalah syarat pengkabulan itu sendiri. Jadi jangan sampai Anda berdoa kepada Allah SWT sementara Anda tidak yakin Allah SWT akan mengabulkan doa tersebut.

Sungguh, Anda benar, wahai Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra., ketika Anda mengatakan, “Aku tidak membebani diriku dengan keinginan untuk terkabulnya doa. Aku hanya berharap agar tetap bisa berdoa.”

Mari, Saudaraku, manfaatkanlah kesempatan dan selamilah nilai-nilai yang akan menyelimuti Anda. Berdoalah kepada Allah SWT dalam kondisi yakin.

KEDUA : Kekhusyukan dihadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari seorang yang lalai dan tidak serius” (HR. Ath-Thurmudzi)

Ingatlah saudaraku, Anda sering berdoa selepas shalat namun Anda tidak merasakan apa yang Anda ucapkan, kecuali kata-kata “Allahumma”, atau kata-kata “amiin” Ya tampaknya Anda tertawa. Apakah hal ini benar.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya sedekat-dekat pintu msuk yang digunakan hamba untuk mendatangi Allah adalah kebangkrutan.”

Ya, itulah pintu masuk yang paling mudah. Kebangkrutan di sini adalah kebangkrutan dalam arti luas dan dalam dimensi beragam. Alangkah bahagianya orang yang terpaku di hadapan Rabbnya dan menyatakan kebangkrutan, sehingga ia pun khusyuk dan menghiba kemudian menangis. Saat itu, ia betul-betul yakin akan terkabulnya doa. Selamat, wahai yang merasa bangkrut, sebab Anda tengah menginginkan kekayaan.

Apakah setelah ini, Anda masih meragukan terkabulnya doa?

Seorang Tabi’in mengatakan, “Sungguh, saya tahu kapan doa saya akan dikabulkan.” Mereka bertanya, “Bagaimana itu bisa?” Ia menjawab, “Jika hatiku telah khusyuk, kemudian badanku juga ikut khusuk’, dan aku pun mengalirkan air mata. Ketika itulah aku mengatakan doaku ini akan dikabulkan.”

Tidakkah Anda pernah merasakan perasaan ini sebelumnya?
Perasaan yakin muncul setelah usaha gigih dan tawakal kepada Allah SWT. Mari, Anda tidaklah kurang istimewa dari Tabi’in tersebut.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, “Tahukah kalian, bagaimana seharusnya seorang muslim berdoa?” Mereka bertanya, “Bagaimana itu, wahai imam?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan ia pun akan tenggelam? Kemudian orang ini berdoa dengan mengatakan, ‘Ya Rabbi, selamatkanlah aku! Ya Rabbi selamatkanlah aku!’ Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdoa (kepada Allah).”

Saudaraku, rasakan keadaan dahsyat ini. Anda seorang diri hampir tenggelam sementara Anda tidak memiliki apa-apa selain sebatang kayu. Ya, nyatakanlah itu, dan tidak akan ada lagi yang mampu menyelamatkan Anda selain Allah SWT. Sehingga, Anda pun akan kembali kepada Allah SWT dan berdoa kepada-Nya dengan setiap sel Anda! Sungguh sebuah perasaan dahsyat yang akan menyelimuti Anda saat ini... Selamat bagi Anda yang merasakan hal ini setiap kali berdoa. Simaklah ayat berikut yang akan melahirkan keadaan di atas dengan sebuah ungkapan yang cukup simpel,

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya....” (QS. An-Naml: 62)

Saudaraku, hiduplah didunia dalam kondisi serba “Kesulitan”, sebab tidak ada yang lebih mirip dengan dunia selain “lautan yang bergelombang”. Apa lagi yang Anda tunggu? Segera rasakan itu. Allah SWT pun akan memberikan kejayaan kepada Anda. Rasakan perasaan butuh Anda, maka Dia pun akan menganugerahkan kekayaan kepada Anda. Rasakanlah kelemahan Anda... maka, Dia pun akan mengulurkan kekuatannya kepada Anda.

Anda tidak akan pernah memunculkan perasaan-perasaan ini selain dengan kekhusyukan di hadapan-Nya.

KETIGA : Jangan tergesa-gesa
Syarat ketiga dikabulkannya doa adalah tidak tergesa-gesa, Rasulullah SAW bersabda, “Akan kukabulkan doa seseorang kalian sepanjang ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa dan berdoa, namun aku tidak melihat terkabulnya doaku’, sehingga ia pun tidak lagi berdoa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ath-Thirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang yang melakukan ini ibarat orang yang menemani ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih-benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, sehingga kemudian ia meninggalkannya begitu saja.

Orang yang melakukan ini ibarat orang yang menemani ladangnya dengan menabur benih. Namun ketika benih-benih itu mulai tumbuh, ia mengatakan, “Agaknya benih-benih ini tidak akan tumbuh”, sehingga ia meninggalkannya begitu saja.

Subhanallah! Mengapa Anda tinggalkan doa? Doa itu pasti akan dikabulkan! Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah SWTbertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, Apakah hambaklu berdoa kepadaku?” Jibril pun menjawab, “Ya.” Allah SWT bertanya lagi, “Apakah ia menghiba kepadaku dalam memintanya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka Allah SWT berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya.”

Tidakkah ungkapan, “Sebab Aku suka mendengar suaranya” ini berpengaruh di hati Anda? Ketergesa-gesaan adalah penyakit akut. Penyakit akan bertambah manakala sang pasien menyerah begitu saja pada penderitaannya!

Saudaraku, jangan menyerah pada penyakit ini, dan pergunakanlah obat kesabaran! Obat ini sekarang begitu banyak tersedia, bukan?

KEEMPAT : Hanya makan yang halal
Syarat terakhir terkabulnya doa adalah makan makanan halal. Jangan sekali-kali menghasilkan harta dari sesuatu yang haram.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak akan menerima selain yang baik. Allah memerintah orang-orang mukmin seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul.” (HR. Muslim dan Ath-Thirmidzi)

Firman Allah SWT., “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh...” (Al-Mu’minun: 51)

Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan, “Seseorang yang berpakaian compang-camping, penuh debu dan sedang dalam perjalanan jauh, mengangkat kedua tangannya ke atas seraya berkata, “Ya Rabbi, Ya Rabbi”, tapi makanannnya adalah makanan haram, minumnya juga minuman haram, dan ia pun dulu diberi makan dengan makanan hasil sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”

Saudaraku, perhatikanlah keadaan orang yang digambarkan Rasulullah SAW diatas. Ia adalah seseorang yang berpakaian compang-camping dan berdebu. Artinya, ia seorang miskin yang amat membutuhkan Tuhannya, sehingga ia berdoa. Namun, ia memakan makanan yang haram.

Ada sebuah kenyataan pahit yang terasa bagai sambaran petir bagi setiap orang, atau bahkan lebih berat bagi setiap orang, atau bahkan lebih berat dari itu, yaitu “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?“ Ya Allah! Ulangilah kata-kata ini, “Bagaimana mungkin”, dan selami serta renungkan baik-baik! Anda akan merasakan sesuatu yang aneh di hati dan begitu menyesakkan dada.

Saudaraku tercinta, saya berpesan kepada Anda, untuk menjauhi segala yang haram. Rasulullan SAW bersabda, “Perbaikilah makananmu, maka akan dikabulkan doamu.”

die. *Ibadah Sepenuh Hati*
Amru Khalid
http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=7870

Selasa, 22 November 2011

MAKNA KATA INSYA ALLAH dulu dan sekarang.

Kata Insya Allah dulu dan sekarang rupanya ada mengalami pergeseran makna. Walau sesungguhnya dan memang seharusnya maknanya tidak boleh berubah. Namun karena terjadi pergeseran budaya dan perilaku para pemakai kata 'Insya Allah' tersebut maka seolah-olah maknanya bergeser. Padahal tidaklah demikian, dan akan tetap sama maknanya dulu dan sekarang hingga kelak dunia ini berakhir.

Mengapa saya katakan ada pergeseran makna? nah ikuti ulasannya, dan coba...

Kalau dahulu dan lebih-lebih di zaman Rasulullah kemudian dilanjut dengan para sahabat, kerabat, para jumhur ulama masih memiliki pengaruh kuat dizaman itu, maka kata Insya Allah sesungguhnya nyaris bermakna atau berarti sebuah 'kepastian' kecuali Allah berkehendak lain. Artinya bahwa begitu beliau-beliau mengucapkan kata 'Insya Allah' dalam sebuah janji, atau disaat beliau-beliau diminta untuk hadir pada suatu acara tertentu, maka itu adalah suatu jaminan akan sebuah kepastian bahwa mereka akan datang, mereka akan menghadiri, mereka akan menepati janji apabila di tinjau dari sisi kapasitas mereka selaku 'manusia', terkecuali Allah berkehendak lain barulah hal itu tidak bisa terealisasi.

Namun dimasa sekarang, orang begitu gampang mengucapkan kata 'Insya Allah' sekalipun untuk sesuatu yang sebenarnya sulit untuk ia lakukan baik dipandang secara teknis, waktu, tempat, dan lainnya. Artinya sangat kecil kemungkinannya dapat ia penuhi. Bahkan tidak sedikit pula orang yang mengucapkan kata itu sesungguhnya sudah terbesit di dalam hatinya untuk tidak merealisasikan ucapannya itu. Ucapan itu sengaja disampaikan hanya dimaksudkan sekedar untuk pemanis.

Hanya saja, pemanis atau tidak pemanis, dengan ucapan itu tentu orang akan berharap kehadirannya, kedatangannya, ketepatan janjinya, dan lain-lain.

Semestinya agar tidak memberi harapan alangkah baiknya nyatakan saja dengan sejujurnya misalkan: Mohon maaf, saya tidak bisa memenuhi janji karena bla...bla...., sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya. dst. dst.

Namun nyatanya orang tetap mengatakan 'Insya Allah', sekali lagi..., walau untuk sesuatu yang tidak mungkin dapat ia lakukan. Karena dianggapnya bahwa pengertian atau makna kata 'Insya Allah' adalah hanya tergantung sikon dan tergantung perasaan hati belaka, bukan tergantung pada ketentuan Allah.

Inilah yang saya maksud pergeseran makna tadi.

Mohon maaf kalau aspek pandang saya berbeda dengan kawan-kawan. Tapi percaya saja, bahwa perbedaan itu rahmat bukan???
Sumber : http://bamaraon.blogspot.com/2009/03/makna-kata-insya-allah-dulu-dan.html

Selasa, 01 November 2011

QURBAN, syarat, hukum dan sahnya ...

Ibadah Qurban
Berqurban di hari Idul Adha merupakan ibadah sunnah muakkadah, termasuk perbuatan yang paling dicintai Allah Ta’ala. Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Maksud Hadits: “Tidak ada perbuatan manusia yang paling dicintai Allah Ta’ala pada hari qurban kecuali mengucurkan darah (hewan qurban) karena sesungguhnya hewan tersebut akan datang pada hari kiamat dengan bentuk seutuhnya (tanduknya, kukunya dan kulitnya) dan sesungguhnya darahnya akan sampai disisi Allah sebelum sampai ke bumi”.

Binatang qurban itu hendaklah binatang ternakan (An‘am) seperti:

1.Unta

2.Lembu/ sapi

3.kambing/ biri-biri kibasy/ domba.


Maksud Firman Allah Ta’ala: “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syari‘atkan ibadat menyembelih qurban supaya mereka menyebut nama Allah sebagai bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka daripada binatang-binatang ternak yang disembelih itu” (Al-Hajj : 34).

Didalam Firman Allah yang lain merupakan anjuran berqurban seperti yang dijelaskan dalam surat Al-kaustar, Maksud Ayat:

1.Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2.Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.
3.Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

(yang dimaksud “berkorbanlah” di dalam ayat tersebut ialah menyembelih hewan qurban di hari Idul Adha dan mensyukuri nikmat Allah).

Hukum-hukum berqurban
Seekor unta, lembu/ sapi itu diniatkan (kongsi) untuk tujuh jiwa dan masing-masing yang ikut andil dalam pembelian harus berniat satu tujuan, yaitu niat berqurban. Adapun Seekor kambing hanya untuk seorang saja tidak boleh diniatkan untuk dua jiwa. Bila diniatkan untuk dua jiwa/ orang, Udhiyanya (qurban) tidak sah, tapi tetap saja mendapat pahala sedekah bagi dirinya.

Paling utama/ Afdhal binatang yang dibuat qurban adalah yang berwarna putih, kemudian yang berwarna kekuning-kuningan, kemudian yang putih tetapi tidak sempurna putihnya, kemudian yang sebagian besar badannya berwarna putih, kemudian yang sebagian besar berwarna hitam, kemudian berwarna hitam semuanya, kemudian yang berwarna kemerah-merahan semuanya/ coklat condong pada warna merah.

Binatang itu hendaklah cukup umur
Untuk unta berumur lima tahun dan masuk tahun keenam serta sudah kupak (terlepas gigi depannya). Adapun sapi/ lembu atau kambing (selain kambing kibasy/ biri-biri/ domba) berumur dua tahun dan masuk tahun yang ketiga . Boleh juga kambing yang belum genap berumur dua tahun, dengan syarat sudah kupak (terlepas gigi depannya) dengan sendirinya dan berumur lebih dari satu tahun.

Kambing kibasy/ biri-biri/ domba.
Bagi yang berqurban kambing jenis kibasy/ biri-biri/ domba, maka cukup yang berumur satu tahun atau belum mencapai umur satu tahun dengan syarat sudah kupak (terlepas gigi depannya) dan sudah lebih enam bulan dari umurnya.

Urutan keutamaan binatang untuk dijadikan qurban.

1.Unta 2.Lembu/ sapi 3.Kambing kibasy/ biri-biri/ domba 4.Kambing biasa pada umumnya.

Satu ekor Unta atau lembu/ sapi diniatkan (kongsi) untuk tujuh jiwa. Namun, tujuh ekor kambing untuk masing-masing orang, maka hal tersebut lebih afdhal/ utama. Lebih jelasnya, berqurban tujuh ekor kambing lebih afdhal dari pada satu ekor unta, disebabkan daging akan menjadi lebih banyak.

Binatang Qurban Hendaklah Sehat & Bebas dari Cacat.

Binatang yang tidak sah dijadikan qurban itu ialah:

  • 1.Binatang yang buta atau rusak matanya atau yang tidak dapat melihat sekalipun biji matanya masih ada. Jika matanya itu ada sedikit kecacatan seperti sedikit rabun tetapi masih bisa melihat, maka ia sah dibuat qurban.
  • 2.Binatang yang jelas pincang kakinya dengan perkiraan, bila ia berjalan bersama-sama sekumpulan kawan-kawan binatang yang lain untuk mencari makan, ia tidak dapat ikut berjalan bersama dengan binatang-binatang tersebut, bahkan ia tertinggal jauh dibelakang. bila pincangnya itu sedikit yaitu pincang yang tidak menghalangi mengikuti kawan-kawannya, maka ia sah dibuat qurban.
  • 3.Binatang yang nyata sakitnya sehingga berakibat binatang tersebut kurus dan kurang dagingnya. Tetapi jika sakitnya itu sedikit dan tidak mengurangi dagingnya maka ia sah dibuat qurban.
  • 4.Binatang yang kurus sekali akibat sakit, gila atau kurang makan dan sebagainya.
  • 5.Binatang yang telinganya terpotong walaupun sedikit atau yang tidak bertelinga sejak dilahirkan kerana telah hilang sebagian anggota yang bisa dimakan dan mengurangi dagingnya. Tetapi tidak mengapa jika telinganya koyak atau berlubang dengan syarat tidak ada yang berkurang dari dagingnya walaupun sedikit.
  • 6.Binatang yang terpotong ekornya walaupun sedikit atau terpotong sebagian lidahnya atau yang terpotong dari bagian pahanya. Adapun yang dilahirkan tanpa ekor sejak dilahirkannya, maka sah dibuat qurban.
  • 7.Binatang yang gugur semua giginya sehingga mengakibatkan tidak dapat makan rumput. Adapun yang ada sebagian giginya dan tidak menghalangi makan rumput dan tidak mengurangi dagingnya (tidak kurus) ia boleh dibuat qurban.
  • 8.Binatang yang berpenyakit gila atau yang kena penyakit kurap sekalipun sedikit.
  • 9.Binatang betina yang hamil. adapun binatang yang baru melahirkan boleh dibuat qurban berdasarkan pendapat Ibnu Hajar dalam kitabnya Tuhfah dan Arramli dalam kitabnya Nihayah.

Waktu Pelaksanaan Berqurban

Rasulullah SAW telah bersabdah, maksud Hadits: “Barang siapa yang menyembelih sebelum Sholat Ied sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya dan barang siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbahnya maka ia telah menyempurnakan ibadahnya dan ia telah melaksanakan sunnah orang orang beriman” (Bukhari & Muslim).

Lebih jelasnya, waktunya empat hari, yaitu diawali setelah Sholat Idul Adha dan dua khutbahnya (tanggal 10 dzul hijjah) sampai tenggelamnya matahari pada tanggal 13 Dzul Hijjah/ akhir hari tasyriq. Dan afdholnya, dilakukan di hari Idul Adha hingga matahari terbenam.

Catatan:
Seorang yang berqurban karena nazar tidak boleh memakan daging qurban tersebut, sedangkan yang berqurban dengan qurban sunnah diperbolehkan untuk memakan daging qurbannya, akan tetapi, afdholnya/ lebih utama ia sedekahkan semuanya kepada yang berhak.

Demikian penjelasan yang dapat al-faqir uraikan, semoga bermanfaat.

Wallohu A’lam Bi Showab.

(Sumber : Salim Syarief MD, KabarNet : 07/11/10

Selasa, 26 Juli 2011

MARHABAN YA RAMADHAN.. MENYAMBUT BULAN RAMADHAN.. DIANTARA KEUTAMAAN SHOUM (BERPUASA) DAN BULAN RAMADHAN..

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami
MENYAMBUT BULAN RAMADHAN Hendaklah kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan beberapa perkara berikut:
1. Membayar hutang puasa (apabila mempunyai hutang) sebelum masuk bulan Ramadhan.
2. Memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur’an serta amal saleh lainnya pada bulan Sya’ban untuk persiapan Ramadhan.
3. Mempersiapkan diri (lahir dan batin / jasmani dan rohani) secara matang.

DIANTARA KEUTAMAAN SHOUM (BERPUASA) DAN BULAN RAMADHAN:
1. Diturunkan di dalamnya Al-Qur’an. (QS. Al-Baqarah: 185).
2. Pintu-pintu surga dibuka dikarenakan banyaknya amal saleh dari orang-orang mukmin.
3. Pintu-pintu neraka ditutup sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin dikarenakan sedikitnya maksiat.
4. Setan-setan dibelenggu sehingga tidak sebebas hari-hari lainnya. ( Ketiganya adalah hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim beserta syarh para ulama).
5. Setiap malam ada penyeru yang berseru: “Wahai orang yang berbuat kebaikan menghadaplah dan wahai orang yang berbuat keburukan berhentilah”.
6. Setiap malam Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari api neraka. (Keduanya adalah hadits riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad hasan).
7. Orang yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala Allah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
8. Pahala puasa dilipatgandakan oleh Allah tanpa batas. (HR. Bukhari dan Muslim).
9. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu: ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).
10. Bau mulut orang berpuasa lebih wangi disisi Allah dari Misk (parfum yang paling wangi). (HR. Bukhari dan Muslim).
11. Puasa adalah tameng pelindung dari api neraka. (HR. Bukhari dan Muslim).
12. Orang yang berpuasa akan mendapatkan keistimewaan dengan surga yang dikhususkan untuk mereka, yaitu: Ar-Royyan. (HR. Bukhari dan Muslim).
13. Puasa kelak memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang yang berpuasa. (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dll dengan sanad hasan).
14. Orang yang berpuasa termasuk shiddiqin dan syuhada. (HR Ibnu Hibban dengan sanad shahih).
15. Barangsiapa melakukan Qiyam Ramadhan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).
16. Barangsiapa shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka dicatat untuknya shalat semalam suntuk. (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani).
17. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadr: 1-5)
18. Do’a orang berpuasa dikabulkan terutama menjelang berbuka. (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
19. Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menambahnya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal maka seakan dia berpuasa selama setahun. (HR. Muslim).

Senin, 25 Juli 2011

Khutbah Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

sumber: Hidayatullah.com

Selasa, 31 Mei 2011

Rasa Terima Kasih

Sahabat, ...
Apa yang kita lakukan, apabila ada seseorang yang menjamin kebutuhan kita setiap hari. Gratis, apa-apa tinggal pakai dan ambil, semuanya telah tersedia. Ketika kita dipanggilnya, pasti kita akan segera datang, ketika kita disuruhnya pasti akan segera kita lakukan. Karena kita merasa berhutang budi kepadanya, karena segala kebutuhan hidup kita dipenuhinya.

Sahabat, ...
Mari kita renungkan, ketika kita terbangun dari tidur di pagi hari. Semua anggota badan kita dapat berfungsi dengan normal seperti sediakala. Mata kita, tangan kita, kaki kita dan anggota yang lainnya semua normal seperti kemarin sebelum kita tertidur. ketika kita membuka jendela kamar atau keluar rumah, udara pagi yang segar telah tersedia buat kita. Seiring berjalannya waktu sang mentari juga siap menghangatkan tubuh kita. Semuanya GRATIS,... kita tidak perlu membayar.

Sahabat,...
Namun ketika Dzat yang mempunyai semua itu, yang menyediakan buat kehidupan kita memanggil kita untuk menghadap_Nya (dengan Adzan sebagai panggilan Sholat) melalui seorang muadzin , terkadang kita bermalas-malas atau pura pura tidak mendengarnya. Kita tidak segera menghadap-Nya, malah kita sibuk dengan urusan kita sendiri. Begitukah balas budi kita kepada-Nya. kepada Dzat yang menguasai segala yang ada di bumi dan alam semesta ini.

Sahabat,...
Mari kita renungkan, kalau ada seseorang yang menjamin hidup kita. Kita akan ungkapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya. kita akan lalukan perintah dan jauhi laranganya. Seharusnya kepada Dzat yang telah memberikan kita semua kenikmatan hidup yang tak terhitung jumlahnya ini, kita juga akan melakukan yang lebih dari itu. Kita akan tunduk dan patuh pada semua aturan dan petunjuk-Nya.

Firman-Nya :
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
(QS. Ibrahim : 34)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(QS. Ibrahim : 7)

SEMOGA BERMANFAAT!!

Kamis, 12 Mei 2011

INGAT-INGAT

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
(QS. Al Baqarah : 152)

Sahabat,... di setiap hembusan nafas kita ada Nikmat-Nya yang sering kita melupakannya. kita baru baru menyadari kala nikmat itu hilang dari kita. Saat kita dalam keadaan baek-baek, sering kita lupa, ibadah kita hanya seperlunya atau hanya gugur kewajiban saja.

Namun di saat Allah mencabut nikmat dari kita (untuk sementara atau selamanya) baru kita mengingat Allah, mendekatkkan diri kepada-Nya dengan menghamba agar nikmat itu dikembalikan kepada kita. Kebanyakan dari kita hanya mengingat Allah ketika dalam kesukaran, ketika kita tertimpa musibah, ketika kita sedang diuji oleh Allah. Manusia ingat kepada Allah di waktu kesukaran dan lupa di waktu senang.

Allah telah mengingatkan dalam FirmanNya :
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
(QS. Al Munaafiqun : 9)

Rasulullah SAW bersabda :
“ Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat. Cara membersihkannya adalah dengan mengingat Allah ”

Mari membiasakan diri dari yang kecil dan dilakukan secara terus-menerus....
1. Membiasakan diri membaca BASMALLAH (Bismillah) ketika akan melakukan aktifitas sehari-hari. Membiasakan membaca doa sebelum atau sesudah melakukan kegiatan.
2. Meringankan lisan kita memuji Allah (HAMDALLAH) kala mendapat kebaikan dan kenikmatan dalam usaha.
3. Membiasakan sholat tepat waktu dan belajar khusyu' dalam sholat.
4.Berdzikir baik secara lisan maupun dalam hati.

"Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."
(QS. Al A'raaf : 69)

“[yaitu] Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan dzikir hati menjadi tentram.”
[Ar-Ra’d : 28]